Selasa, 11 Juni 2013

PERILAKU KONSUMEN PADA SUATU PRODUK

PERILAKU KONSUMEN PADA SUATU PRODUK

            Perilaku Konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka.
            Analisis tentang berbagai faktor yang berdampak pada perilaku konsumen menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemasaran. Ya, pemasar wajib memahami konsumen, seperti apa yang dibutuhkan, apa seleranya, dan bagaimana konsumen mengambil keputusan.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
1. Faktor Sosial
a. Grup
b. Pengaruh Keluarga
c. Peran dan Status
2. Faktor Personal
a. Situasi Ekonomi
b. Gaya Hidup
c. Kepribadian dan Konsep Diri
d. Umur dan Siklus Hidup
e. Pekerjaan
3. Faktor Psikologi
a. Motivasi
b. Persepsi
c. Pembelajaran
d. Beliefs and Attitude
4. Faktor Kebudayaan
a. Subkultur
b. Kelas Sosial

            Menurut Kotler (1997), konsumen melalui beberapa tahap dalam pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk, antara lain  :
1.      Pengenalan Masalah, konsumen/calon pembeli akan mengenali suatu masalah atau kebutuhan.
2.      Pencarian informasi, hal ini berhubungan dengan ketersediaan informasi dari suatu produk, dan ketersediaan dari produk tersebut, jika tersedia maka konsumen akan bersedia untuk membelinya.
3.      Evaluasi Alternatif, Konsumen akan melihat berbagai alternatif dari suatu produk, dan akan secara teliti membuat pilihan terhadap produk tersebut.
4.      Keputusan Pembeli, setelah mengevaluasi produk alternatif maka konsumen/calon pembeli akan membuat keputusan untuk membeli. Penilaian terhadap keputusan pembelian konsumen membentuk sebuah pilihan merek diantara merek yang lain.


AQUA



      Aqua merupakan sebuah perusahaan air minum mineral yang telah dikenal luas dan ada sejak lama (sejak 23 Februari 1973), Aqua telah menjadi sebuah image untuk produk air minum mineral dan dikenal oleh segala kalangan dari mulai anak kecil, hingga orang dewasa, contohnya saja jika kita melihat sekitar kita hampir semua konsumen yang membeli air mineral akan memesan dengan sebutan “Aqua galon”, “Aqua botol” ataupun “Aqua gelas” walaupun tidak semua penjual menyediakan produk Aqua itu sendiri, misalnya saja produk VIT, Anda, Cleo, dan lain-lain. Tetapi konsumen tetap menyebutnya “Aqua” dan jika mereka diberikan produk selain Aqua pun konsumen tidak protes karena sudah menjadi budaya di tengah masyarakat dimana brand Aqua diartikan sebagai sebutan lain dari air mineral.


                        Keberhasilan dan kebesaran aqua sekarang tidak didapatkan dengan mudah, hal tersebut mereka raih dengan kegigihan dan konsistensi mereka mengenalkan air minum dalam kemasan kepada masyarakat luas yang pada masa awal perusahaan tersebut berdiri masih belum mengenal dan percaya terhadap air minum dalam kemasan. Dapat kita lihat iklan Aqua yang ada di televisi, dimana iklan tersebut menceritakan bagaimana konsumen tidak tertarik terhadap produk ini, namun dengan kualitas baik yang dimiliki oleh Aqua, secara perlahan-lahan masyarakatpun sadar akan kebutuhan air minum yang higienis dan baik untuk kesehatan.


      Kepuasan konsumen terhadap produk Aqua dapat dilihat dari loyalitas konsumen yang tetap mengkonsumsi Aqua walaupun banyak produk-produk air mineral lain yang beredar di pasaran, hal ini tidak terlepas dari usaha PT. Golden Mississippi (produsen Aqua) yang terus menjaga dan meningkatkan kualitas Aqua. Keberhasilan Aqua juga dapat dilihat dari ketertarikan grup Danone untuk melakukan merger dan membeli sebagian saham PT. Golden Mississippi. Aqua juga telah membuktikan kualitasnya dengan mendapatkan berbagai penghargaan seperti  Packindo Star 2011 kategori Consumer Pack dari Federasi Pengemasan Indonesia  untuk AQUA Reflections(botol gelas premium), Menerima penghargaan Indonesian Best Brand and Indonesian Golden Brand, Indonesia Customer Satisfaction Award, Indonesian Best Brand Award, Value Creator Award, dan masih banyak lagi.

Peran Komunikasi dalam Organisasi

1.       Definisi Komunikasi
Komunikasi (dari bahasa Latin “communis”, yang berarti untuk berbagi) adalah kegiatan menyampaikan informasi melalui pertukaran pikiran, pesan, atau informasi, dengan melalui pembicaraan, visual, sinyal, tulisan, atau perilaku. Ini merupakan pertukaran informasi yang terjadi antara dua atau sekelompok orang.
Kategori komunikasi tersebut diantaranya:
·         Komunikasi lisan atau verbal: tatap muka, telepon, radio atau televisi atau media lainnya.
·         Komunikasi non-verbal: bahasa tubuh, gerak tubuh, bagaimana kita berpakaian atau bertindak.
·         Komunikasi tertulis: surat, e-mail, buku, majalah, internet atau melalui media lainnya.
·         Visual: grafik, diagram, peta, logo dan visualisasi lain yang dapat digunakan untuk berkomunikasi.

2.       Definisi Organisasi
Organisasi adalah wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya.
Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).
                Pada dasarnya orang tidak bisa hidup sendiri. Sebagian besar tujuannya dapat terpenuhi apabila ada interaksi sosial dengan orang lain. Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri karena manusia memiliki kebutuhan terhadap manusia lainnya. Karena itulah biasanya manusia berkumpul dan membentuk kelompok, yang disebut dengan organisasi. Karang Taruna, perusahaan, kerajaan, negara, adalah bentuk-bentuk dari organisasi. Bahkan sebuah organisasi kejahatan pun pada dasarnya juga adalah sebuah organisasi, dimana mereka bergabung dan berkumpul karena memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Organisasi yang paling kecil yang kerap kita jumpai adalah keluarga. Keluarga pada hakikatnya adalah sebuah organisasi. Keluarga adalah satuan organisasi terkecil yang pertama  kali dikenal oleh setiap manusia.

3.       Peran Komunikasi di dalam Organisasi
Komunikasi dalam organisasi adalah komunikasi di suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kerja sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (Effendy,1989: 214). Manajemen sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal komunikasi yang efektif sangat penting bagi para manajer, paling tidak ada dua alasan, pertama, komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai; kedua, komunikasi adalah kegiatan dimana para manejer mencurahkan sebagian besar proporsi waktu mereka. Proses Komunikasi memungkinkan manejer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka. Informasi harus dikomunikasikan kepada stafnya agar mereka mempunyai dasar perencanaan, agar rencana-rencana itu dapat dilaksanakan. Pengorganisasian memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penugasan mereka. Pengarahan mengharuskan manejer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar tujuan kelompo dapat tercapai. Jadi seorang manejer akan dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen melalui interaksi dan komunikasi dengan pihak lain. Sebahagian besar waktu seorang manejer dihabiskan untuk kegiatan komunikasi, baik tatap muka atau melalui media seperti Telephone, Hand Phone dengan bawahan, staf, langganan dsb. Manejer melakukakan komunikasi tertulis seperti pembuatan memo, surat dan laporan-laporan.
Jadi yang dimaksud dengan Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.
4.       Fungsi Komunikasi di dalam Organisasi
Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai berikut:

1.          Fungsi informatif.
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi. Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti, dan sebagainya.
                                                                                                                                                                                                                                       

2.          Fungsi regulatif.
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Terdapat dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif, yaitu: a. Berkaitan dengan orang-orang yang berada dalam tataran manajemen, yaitu mereka yang memiliki Sendjaja (1994) menyatakan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah sebagai kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Juga memberi perintah atau intruksi supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. b. Berkaitan dengan pesan. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.

3.          Fungsi persuasif.
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

4.          Fungsi integratif.
Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu: a. Saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (buletin, newsletter) dan laporan kemajuan organisasi. b. Saluran komunikasi informal seperti perbincangan antar pribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga, ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.  (sihnu bagus,2011)